Beberapa hari lalu ITB menganugerahkan gelar Guru Besar Emeritus kepada Prof. Hermawan Kresno Dipojono, pakar teknologi kuantum.
Dari momen itu, saya jadi penasaran dan berdiskusi panjang soal apa itu Profesor Emeritus, apa itu kuantum, dan bagaimana posisinya dibanding superkomputer dan komputer optik yang dulu pernah ramai dibicarakan.
1. Apa Istimewanya Profesor Emeritus?
Pada 23 September 2026 di Gedung CRCS ITB Kampus Ganesha, ITB menganugerahkan gelar Profesor Emeritus kepada Prof. (Em) Ir. Hermawan Kresno Dipojono, MSEE., Ph.D. [itb.ac.id]
Gelar ini bukan otomatis untuk semua guru besar yang pensiun. Ini adalah kehormatan tertinggi.
Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara, menegaskan bahwa purnadarma tidak berarti berhenti berkontribusi. Profesor Emeritus tetap dianggap bagian penting dari ITB.
Keistimewaannya:
- Selektif dan berbasis kontribusi:
Diberikan karena dedikasi panjang - Prof. Hermawan pernah Dekan FTI ITB, pejabat Ditjen Dikti, dan Ketua Senat Akademik ITB 2019-2024.
- Fase kebebasan berkarya:
Bebas dari beban administratif, tapi tetap boleh membimbing S2/S3, melanjutkan riset, dan membangun jejaring internasional.
- Jembatan generasi:
Seperti kata Dekan FTI Prof. Tirto Prakoso, penghargaan ini adalah bukti keteladanan yang diharapkan menginspirasi generasi penerus.
2. Risetnya: Dari Material Komputasional ke Quantum Machine Learning
Prof. Hermawan adalah salah satu perintis desain material komputasional di Indonesia. Guru Besar sejak 2012 di bidang Rancang Bangun Material Komputasional dan Simulasi Dinamika Molekul.
Lab yang beliau bangun, CMD-QE (Computational Material Design - Quantum Engineered), fokus pada simulasi komputasi kuantum dengan komputer klasik untuk mencari new functional materials - mulai dari antioksidan biji melinjo berbasis mekanika kuantum hingga model Alzheimer.
Pesan pentingnya yang menarik:
"Kalau Indonesia gagal jadi produsen hardware kuantum, minimal harus jadi excellent user."
Artinya, kita harus jago memakai komputer kuantum untuk riset material, energi, dan obat, jangan hanya jadi pembeli.
3. Jadi, Teknologi Kuantum Itu Hanya Soal Komputer yang Super Cepat ?
Tidak. Cepat adalah akibatnya, bukan definisinya.
Komputer biasa pakai bit (0 atau 1). Komputer kuantum pakai qubit yang bisa 0 dan 1 sekaligus (superposisi). Karena itu ia bisa menghitung jutaan kemungkinan secara paralel.
Contoh yang sering beliau pakai: deretan angka yang butuh 200.000 tahun untuk dibaca komputer klasik, bisa selesai dalam 4 menit dengan komputer kuantum.
4. Superkomputer vs Komputer Kuantum: Mana Lebih Hebat?
Bukan soal siapa ganti siapa, tapi spesialisasinya beda.
Superkomputer:
Ribuan prosesor biasa yang kerja bareng. Jago untuk cuaca, simulasi pesawat, training AI. Sudah matang dan dipakai di mana-mana.
Komputer Kuantum:
Spesialis untuk masalah "impossible" seperti kimia kuantum dan desain material. Dia tidak akan menggantikan laptop Anda.
Keduanya akan hidup berdampingan dalam format hybrid.
Ternyata sudah ada, tapi bercabang dua:
Komputer Optik Klasik (Photonic Computing):
Cahaya dipakai untuk transfer data, bukan untuk hitung. Perusahaan seperti Lightmatter dan Celestial AI di 2026 sudah menjualnya.
Tujuannya: mengatasi superkomputer yang makin boros listrik (satu modul akselerator sudah mendekati 700W).
Komputer Kuantum Fotonik:
Justru ini yang paling maju. Xanadu dari Kanada sudah IPO di NASDAQ Maret 2026, ORCA Computing sudah terpasang di Inggris, dan PsiQuantum mengumpulkan dana di atas $2 miliar.
Kelebihannya: tidak butuh suhu -273°C seperti kuantum superkonduktor, dan langsung nyambung ke fiber optik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar